Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Coffe Been and Pomegranate (CBP) As Coral Cancer Destroyed

COFFE BEEN and POMEGRANATE (CBP) AS ORAL CANCER DESTROYER

Diususun Oleh:
Fajriatul Mufarriha Sunni

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 LAMONGAN






SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 LAMONGAN
JL.VETERAN NO. 41 KABUPATEN LAMONGAN
PROVINSI JAWATIMUR
2018


DAFTAR ISI
Halaman Judul .........................................................................................................i
Halaman Daftar isi ..................................................................................................ii
Latar Belakang ........................................................................................................2
Rumusan Masalah ...................................................................................................3





A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan berbagai sumber daya alam. Akan tetapi sangat disayangkan jika keanekaragaman sumber daya alam di Indonesia tidak dimanfaatkan dengan baik. Di sisi lain masalah tentang kesehatan masih saja menjadi momok di kalangan masyarakat. Untuk itu diperlukan suatu metode pemanfaatan sumber daya alam yang bernilai ekonomi dan mampu meningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Hal ini mendorong kami untuk berinovasi dan menemukan solusi dari berbagai permasalah tersebut.
Kopi merupakan salah satu tanaman perkebunan dan komoditas ekspor utama dari setengah negara berkembang di dunia. Sementara ini biji kopi hanya dimanfaatkan sebagai minuman kopi, padahal kopi mengandung asam amino berupa isoleuin, leusin, valin, tirosin, dan fenilalanin sehingga seseorang yang rutin mengkonsumsi biji kopi maupun kopi akan mengalami penurunan kanker sekitar 19% bahkan akan mengalami penurunan prosentase kanker yang lebih signifkan pada kanker yang lebih ganas (Wilson, 2006). Dari fakta tersebut mendorong kami untuk mengolah kandungan yang terdapat pada biji kopi sebagai penghambat sel kanker.
Sumber daya alam lain yang sangat melimpah di indonesia adalah buah delima. Buah delima banyak mengandung senyawa polyphenol yang terdiri dari flavonoid, hydrolyzahle tannins (ellagitannins dan gallotannins) dan condensed tannins (proantho cyanidins). Bahan aktif utama yang terkandung di dalam buah delima adalah punicalagin dan ellagic acid (EA).buah delima dengan standar 40% ellagic acid dapat menghambat perkembangan sel kanker antiproliferasi, menginduksi apoptosis dan antioksidan secara invitro (Seeram et al., 2006; Jurenka, 2008). Menurut beberapa studi juga menyebutkan bahwa manfaat dari delima pada manusia antara lain sebagai antioksidan yang sangat baik untuk mengurangi tubuh dari kerusakan oksidatif.

Salah satu penyakit berbahaya Karsinoma sel skuamosa rongga mulut merupakan kanker keenam terbanyak didunia, di India dilaporkan setiap tahun 75.000-80.000 kasus baru, di Singapura dan negara-negara Asia lainnya juga dilaporkan bahwa kanker ini mempunyai angka kejadian yang tinggi (Epstein and Waal, 2008; Solomon, 2010). Berbagai upaya penatalaksanaan penyakit kanker masih banyak menemui kendala yang mengakibatkan kurangnya keberhasilan dalam mencegah dan mengobati kanker. Pengobatan yang selama ini dilakukan meliputi pembedahan, penyinaran radioterapi dan penggunaan obat-obat kemoterapi masih menimbulkan efek samping yang merugikan dan dilaporkan adanya resistensi beberapa jenis kanker (Rizali dan Auerkari, 2003; Sismindari, 2005).

Pada dasarnya penanganan kanker melalui kemoterapi dan dengan obat herbal tidak jauh berbeda. Keduanya untuk membunuh sel kanker, namun efek yang ditimbulkan kedua sistem pengobatan ini sangat berbeda. Tanaman obat dengan sifat alamiahnya akan meningkatkan daya tahan tubuh penderita terutama sel yang berada di sekitar kanker. Senyawa-senyawa aktif tanaman obat juga banyak mempunyai fungsi untuk menghambat pertumbuhan selkanker dan membunuhnya, memutus pasokan zat-zat makanan dan oksigen ke jaringan sel kanker. Selain bebagai alasan tersebut di atas penggunaan obat herbal dalam menangani sel kanker merupakan cara pengobatan dengan biaya murah (McCutcheon et a l.,2008). Berdasarkan fakta tersebut, tidak menutup kemungkinan bahwa  biji kopi dan buah delima dapat dimanfaatkan sebagai obat alternatif pada sel kanker rongga mulut yang aman dan ekonomis. 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan berbagai latar belakang tersebut, maka didapati beberapa rumusan masalah yakni: 1) Apakah Biji kopi dan Biji Delima dapat di manfaatkan untuk meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar? 2) Berapakah perbandingan dosis yang paling optimum CBP dalam meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar?.

C. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan ini terdapat beberapa tujuan antara lain:1) Untuk Apakah Biji kopi dan Biji Delima dapat di manfaatkan untuk meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar, 2) Untuk mengetahui perbandingan dosis yang paling optimum CBP dalam meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1) Memberikan alternatif obat penghambat pertumbuhan sel kanker rongga mulut mencit secara aman dan alami. 2) Mengolah biji kopi dan buah delima yang belum begitu optimal menjadi bahan yang lebih bermanfaat. 3) Penelitian ini juga diharapkan bermanfaat bagi para penderita kanker rongga mulut, Pemerintah serta Masyarakat. 

E. Metode Penelitian 
Metode penelitian yang kami gunakan adalah metode literatur dan metode eksperimen. Metode literatur kami lakukan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum Kabupaten Lamongan yang bertujuan untuk memperoleh informasi awal tentang pembuatan CBP. Sedangkan metode eksperimen digunakan untuk memperoleh data yang berkaitan dengan perbandingan dosis yang paling optimum CBP dalam mengobati kanker rongga mulut pada tikus wistar. Metode eksperimen ini menggunakan penilaian secara kuantitatif yang didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan pada fenomena-fenomena objektif. Maksimalisasi objektifitas desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur, dan percobaan terkontrol. 

Alat yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah baskom, sendok, blender kering, kompor, wajan, dan jangka sorong. Sedangkan bahan yang kami gunakan berupa 400 gram biji kopi robusta , 400 gram buah delima gram  serta 150 ml etanol. 
Alat dan bahan tersebut kemudian digunakan untuk pembuatan CBP dengan tahap pertama yakni Mencuci biji kopi dan buah delima hingga bersih kemudian  biji kopi dan biji delima yang telah dicuci tesebut di oven hingga kering dengan suhu 121ºC selama .... menit. Kemudian biji kopi dan biji delima yang telah di oven tersebut di blender hingga halus.
Untuk mengetahui pengaruh dari CBP AS ORAL CANCER DESTROYER, kami mengujikannya pada 25 ekor tikus wistar  berumur 2 bulan dengan berat 30-40gram/ekor. Berbulu putih bersih, sehat dan gerakannya lincah. Lalu kami adaptasikan selama 2 hari di laboratorium dengan suhu normal.
Sebelum dilakukan perlakuan, terlebih dahulu tikus wistar disuntik dengan B(a)P secara subkutan di sekitar rongga mulut untuk menginduksi kanker. Penyuntikan B(a)P dilakukan selama 10 hari dengan dosis 0,3 mg/ 20g bb. Dalam hal penyuntikan ini kami dibantu oleh dokter hewan dari dinas kesehatan setempat. Pengamatan meliputi peningkatan limfosit, pengamatan diameter benjolan pada rongga mulut dan pengamatan kondisi tikus wistar selama eksperimen.
Untuk mengetahui perbandingan takaran bahan yang paling optimum dari CBP ini maka kami melakukan percobaan pada 3 kelompok yang ditempatkan dalam kandang yang berbeda dengan populasi kandang sebanyak 3 tikus wistar yang telah diinduksi dengan virus B(a)P selama 1 minggu secara subkutan di sekitar rongga mulut dengan dosis 0,3 mg/20g berat badan per hari. Selanjutnya  diberikan CBP dengan  perbandingan takaran bahan biji kopi dan delima 1:1, 1:2, 2:1.  Percobaan dilakukan selama 5 minggu dimana 1 minggu sebagai penginduksian tikus wistar, dan 4 minggu percobaan perbandingan takaran bahan optimal pada tikus. Pengamatan dilakukan melalui pengambilan darah seminggu sebelum perlakuan dan setiap minggu selama empat minggu setelah perlakuan.
Untuk mengetahui perbandingan dosis pemakaian yang paling optimum dari CBP ini maka kami melakukan percobaan pada 5 kelompok yang ditempatkan dalam kandang yang berbeda dengan populasi kandang sebanyak 3 tikus wistar yang telah diinduksi dengan virus B(a)P selama 1 minggu secara subkutan di sekitar rongga mulut dengan dosis 0,3 mg/20g berat badan per hari selama 1 minggu untuk menginduksi kanker. Perlakuan selanjutnya pada setiap kelompok  diberikan   CBP dengan variasi dosis pada kelompok 1 sebanyak 0,2 mg/100 gr berat badan tikus wistar,pada kelompok 2 sebanyak 0,3 mg/100 gr berat badan tikus wistar, pada kelompok 3 diberikan 0,4 mg/100 gr berat badan tikus wistar, pada kelompok 4 diberikan 0,5 mg/100 gr berat badan tikus wistar serta kelompok 5 yang diberi aquades 0,3 ml/100 gr berat badan tikus wistar sebagai pembanding. perlakuan ini dilakukan selama 4 minggu dengan perlakuan sekali dalam sehari. Pengamatan dilakukan dengan pengamatan diameter benjolan pada rongga mulut serta kondisi tikus wistar selama eksperimen.

F. Hasil dan Pembahasan
Dari perlakuan yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan takaran bahan yang paling optimum dari CBP diperoleh data bahwa pengambilan darah pada minggu pertama hingga ke 5 pada kelompok dengan perbandingan takaran bahan biji kopi dan delima  1:1 menunjukan hasil yang kurang efektif. Kemudian pada kelompok dengan perbandingan takaran bahan biji kopi dan delima  1:2 menunjukan hasil yang sangat efektif. Sedangkan pada kelompok dengan perbandingan takaran bahan biji kopi dan delima  2:1 menunjukan hasil yang kurang efektif. Dari pemaparan di atas diatas diketahui bahwa dosis yang paling efektif terdapat pada dosis 1:2 dengan bukti tikus wistar yang diberi dosis 1:2 mengalami peningkatan limfosit yang relatif  lebih cepat dibandingkan percobaan dengan menggunakan dosis 1:1 dan dosis 2:1.
 Dari perlakuan yang bertujuan untuk mengetahui perbandingan dosis pemakaian yang paling optimum dari CBP ini maka diperoleh data yang menunukan perubahan pada ukuran benjolan pada rongga mulut tikus wistar selama eksperimen. Pada kelompok 1 dengan dosis sebanyak 0,2 mg/100 gr berat badan tikus wistar didapati bahwa minggu 1 setelah penginduksian  dengan virus B(a)P didapati benjolan pada rongga mulut sebesar  0,8 cm. Kemudian setelah pemberian CBP selama 1 minggu tidak terdapat perubahan pada benjolan di rongga mulut tikus wistar. Setelah pemberian CBP selama 2 minggu didapati bahwa benjolan pada rongga mulut mengalami perubahan dari ukuran 0.8 cm menjadi 0,7 cm. Hal ini mengindikasikan bahwa CBP mulai menghambat pertumbuhan sel kanker yang terdaat pada rongga mulut tikus wistar. Kemudian pada minggu ke 3 setelah pemberian CBP tidak didapati perubahan pada ukuran benjolan. Namun pada minggu ke 5 pemberian CBP didapati perubahan ukuran benjolan dari 0,7 cm menjadi 0,6 cm. Dengan keadaan tikus wistar yang masih lemah karena masih terinduksi kanker.
Pada kelompok 2 dengan dosis sebanyak 0,3 mg/100 gr berat badan tikus wistar didapati bahwa minggu 1 setelah penginduksian  dengan virus B(a)P didapati benjolan pada rongga mulut sebesar  0,8 cm. Kemudian setelah pemberian CBP selama 1 minggu  telah didapati perubahan pada benjolan di rongga mulut tikus wistar dari ukuran 0,8 cm mengalami penyusutan menjadi 0,7 cm. Setelah pemberian CBP selama 2 minggu didapati bahwa benjolan pada rongga mulut terus mengalami perubahan dari ukuran 0.7 cm menjadi 0,6 cm. Kemudian pada minggu ke 3 benjolan yang terdapat pada rongga mulut tikus wistar mengalami perubahan signifikan yakni dari 0,6 cm menjadi 0,3 cm. Pada minggu terakhir pengamatan didapati bahwa benjolan pada rongga mulut tikus wistar mengalami penyusutan hingga 0,1 cm dari ukuran minggu sebelumnya yakni 0,3 cm. Serta didapati keadaan tikus wistar pada minggu terakhir pengamatan yang sangat aktif dan lincah seperti keadaan awal sebelum terinduksi kanker.
Pada kelompok 3 dengan dosis sebanyak 0,4 mg/100 gr berat badan tikus wistar didapati bahwa minggu 1 setelah penginduksian  dengan virus B(a)P didapati benjolan pada rongga mulut sebesar  0,8 cm. Kemudian setelah pemberian CBP selama 1 minggu tidak terdapat perubahan pada benjolan di rongga mulut tikus wistar. Setelah pemberian CBP selam 2 minggu benjolan pada rongga mulut tetap tidak mengalami perubahan. Namun pada minggu ke 3 terdapat perubahan pada benjolan yang semula berukuran 0,8 cm berubah menjadi 0,7 cm. Kemudian pada minggu terakhir pengamatan juga didapati perubahan dari ukuran sebelumnya yakni 0,7 cm menjadi 0,6 cm. Keadaan tikus wistar pada minggu terakhir didapati sudah aktif dan lincah, namun masih tidak memiliki nafsu makan. 
Pada kelompok 4 dengan dosis sebanyak 0,5 mg/100 gr berat badan tikus wistar didapati bahwa minggu 1 setelah penginduksian  dengan virus B(a)P didapati benjolan pada rongga mulut sebesar  0,8 cm. setelah pemberian CBP selama 1 minggu  telah didapati perubahan pada benjolan di rongga mulut tikus wistar dari ukuran 0,8 cm mengalami penyusutan menjadi 0,7 cm. Pada minggu ke 2 pemberian CBP diperoleh data bahwa benjolan pada rongga mulut terus mengalami perubahan dari ukuran 0.7 cm menjadi 0,6 cm. Namun pada minggu ke 3 tidak didapati perubahan pada benjolan di mulut tikus wistar. Keadaan tersebut berlanjut hingga minggu terakhir penelitian. Namun keadaan tikus wistar yang semula lemah pulih kembali pada minggu terakhir pengamatan. 
Dari data diatas diketahui bahwa ada penyusutan diameter benjolan ketika tikus wistar  di beri esktrak CBP AS ORAL CANCER DESTROYER  dan dosis yang paling efektif yaitu pada kelompok 2 dengan dosis 0,3 mg /100g bb dan benjolannya mengecil sampai 0,1cm. Namun pada tikus wistar  yang diberi aquades sebagai pembanding mengalami pelebaran diameter hingga 1,1 cm.




G. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan yang didapat dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, dapat kita ambil kesimpulan bahwa 1. Biji kopi dan Biji Delima dapat di manfaatkan untuk meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar. 2. Perbandingan dosis yang paling optimum CBP dalam meringankan gejala kanker rongga mulut pada tikus wistar adalah dengan perbandingan takaran bahan sebanyak 1:2 serta dosis penggunaan sebanyak 0,3 mg/100 gr berat badan tikus wistar.

Beberapa saran yang kami ajukan yaitu penelitian ini merupakan penelitian awal biji kopi dan buah delima untuk mengobati penyakit kanker rongga mulut, semoga dapat diadakan penelitian dengan metode-metode baru dan skala yang besar untuk mengolah tanaman biji kopi dan buah delima sebagai obat alami penyakit kanker rongga mulut yang ramah lingkungan dalam bentuk yang lebih efisien, higienis, ekonomis, dan modern.Kemudian diharuskan adanya peningkatan motivasi untuk memanfaatkan sumber daya lokal yang alami untuk alternatif menyembuhkan penyakit. 
























DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Recce.BIOLOGYEdisi ketuju Jilid 3.
Jemal, A., Rebecca, S., Jiaquan, Elizabeth, W. 2010. Cancer Statistics. CA Cancer J Clin, 60:277-300.
M.Balya F.Barlaman, Sony suwasono, Jumarti.2013. Karakteristik Biji Kopi. Arabica. Jember: Universitas Jember.
Mehrotra and Yadav, 2006.
Nasrudin Fathurohman.2013.Studi Mitosis Venereal Sarcoma Pada Anjing Lokal    Di Denpasar.Denpasar:Universitas Udayana.
Seeram et al., 2006; Jurenka, 2008.
Sismindari, 2005;.Rizali dan Auerkari, 2003.
Zaini, Hasan.1996. Pedoman Penelitian Karya Ilmiah. Malang: IKIP Malang.

http://www.faktakanker.com .(Diakses 27 Desember 2015)
https://www.borobudurherbal.com  .(Diakses tanggal 27Desember 2015)
http://www.azzamrumahherbal.com(Diakses tanggal 29 Desember 2015)
http://www.andasehat.com(Diakses tanggal 27Februari 2015)
http://www.academia.edu.com . (Diakses tanggal 2 Agustus 2016)
http://www.slideshare.net . (Diakses tanggal 28 Agustus 2016)