Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fenomena Hujan Es Ditinjau Dari Fisika

Hujan Es Ditinjau Dari Fisika

Fenomena Hujan Es Ditinjau Dari Fisika


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hai sahabat online, selamat datang di blog saya sekaligus artikel pertama yang saya buat. Blog ini akan membahas fenomena alam di kehidupan kita yang memiliki hubungan dengan ilmu fisika. Kali ini saya akan membahas Fenomena Alam Hujan Es. Let’s start it!


Hujan Es Ditinjau Dari Fisika

Fenomena hujan es merupakan fenomena perubahan cuaca yang terjadi secara ilmiah. Fenomena ini biasanya terjadi pada saat musim pancaroba atau masa peralihan cuaca. Musim pancaroba sendiri adalah perubahan musim dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya.


Penyebab Fenomena Hujan EsDi Indonesia, fenomena hujan es dianggap tidak biasa oleh sebagian masyarakat karena jarang terjadi. Menurut Kepala Bidang Manajemen Observasi Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Hary Tirto Djatmiko, fenomena hujan es berbeda dengan fenomena salju yang ada di negara-negara kutub atau sub tropis.

Berikut adalah perbedaan dari hujan es dan salju :


  • Hujan es bisa terjadi di wilayah mana saja, namun salju hanya bisa terjadi di daerah yang termasuk dalam wilayah lintang tinggi (23,5 dejarat)
  • Es yang turun saat hujan es lebih cepat mencair daripada es saat turun salju
  • Hujan es dibentuk oleh awan cumulonimbus, sedangkan salju dientuk oleh awan nimbus stratus.

Fenomena Hujan Es

Hujan es terjadi sebagai akibat dari terakumulasinya air dalam awan cumulonimbus. Awan cumulonimbus sendiri adalah salah satu dari beberapa jenis awan yang mulanya berbentuk menyerupai bunga kol dan berwarna putih.

Awan cumulonimbus sendiri lebih banyak mengandung air dalam bentuk padat daripada air yang berbentuk cair. Oleh karena itu, hujan yang turun dari awan cumulonimbus dapat berupa padatan seperti es.

Lama durasi dari hujan es sendiri cukup cepat. Hanya sekitar 10 menit saja. Hal itu dipengaruhi bahwa intensitas hujan es sendiri sama dengan intensitas hujan biasanya. Setelah es turun di tanah, tak lama kemudian es akan segera mencair.

Dilansir dari ABC, peneliti dari Monash University Dr Joshua Soderholm mengungkapkan tentang proses hujan es bahwa semua hujan es awalnya berbentuk bulat dengan diameter sekitar 1 cm. Ketika bulatan tersebut mulai membesar, akan didapat hasil bahwa air mulai membeku. Kejadian tersebut disebut sebagai fase pertumbuhan basah.

Kemudian air akan membeku, yang menghasilkan terbentuknya saluran mirip es yang sangat jernih. Dilanjutkan dengan fase pertumbuhan kering yang mana pada saat itu es akan berbentuk bulat dan sangat putih. Secara ilmiah, bentuk ini disebut sebagai bentuk struktur lobus cusped.

Hujan es sendiri terbentuk melalui kondensasi uap air melalui pendinginan saat di atmosfer. Terkadang, hujan es bisa disertai dengan angin kencang, bahkan puting beliung yang berasal dari jenis awan cumulonimbus yang berada di daerah tropis.

Fenomena Hujan Es

Apabila hujan es akan terjadi, satu hari sebelumnya suhu udara akan terasa panas dan gerah. Hal tersebut sebagai akibat dari adanya radiasi radiasi matahari yang cukup kuat dan diseratai oleh kelembaban udara yang cukup tinggi.

Saat di pagi hari, apabila kita menengok awan, akan tampak awan cumulus yang berwarna putih dan berlapis-lapis.

Kemudian awan tersebut dengan cepat akan berubah warna menjadi abu-abu kehitaman yang dikenal sebagai awan cumulonimbus yang membawa air berupa padatan. Awan tersebutlah yang akan menghasilkan hujan es.


Cukup sekian artikel mengenai fenomena alam Hujan Es yang dapat saya tulis kali ini. Sampai jumpa dilain pemabasan, tentunya dengan fenomena-fenomena alam yang tak kalah menarik. Stay tune, guys!

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Penulis : Alya Rossalia